Most searched:

Uhud

Pengorbanan Imam Ali di Perang Uhud

Akibat Pembangkangan terhadap Nabi (saw) dan Pengorbanan Amirul Mukminin (as) dalam Perang Uhud

 

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun ketiga hijriah adalah Perang Uhud. Dalam peristiwa ini, terdapat pelajaran-pelajaran mendalam yang tercatat dalam sejarah.

 

Perang Uhud merupakan perang kesepuluh—atau menurut sebagian riwayat, kesembilan—yang diikuti oleh Rasulullah (saw). Perang ini terjadi pada tanggal tujuh atau pertengahan bulan Syawal tahun ketiga hijriah, di kaki Gunung Uhud, sehingga dikenal dengan nama tersebut.

 

Sebab terjadinya perang

Kaum Quraisy, setelah kekalahan mereka dalam Perang Badar dan demi membalas darah para korban mereka, mempersiapkan pasukan baru di bawah pimpinan Abu Sufyan untuk menghadapi Rasulullah (saw) dan kaum Muslimin.

 

Rasulullah (saw) bersama para pembesar Muhajirin dan Anshar pada awalnya berencana bertahan di dalam Madinah. Namun, para pemuda dan juga Hamzah, paman Nabi, menginginkan agar pertempuran dilakukan di luar kota.

 

Akhirnya, Rasulullah (saw) memutuskan keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh.

 

Pasukan Quraisy dalam Perang Uhud

Abu Sufyan mengerahkan biaya besar untuk mempersiapkan pasukan ini dan memimpinnya sendiri. Jumlah pasukan kaum musyrikin mencapai tiga ribu orang.[1]

 

Di antara mereka, 700 orang mengenakan baju besi, serta membawa 200 kuda dan 3000 unta.[2]

 

Shafwan bin Umayyah mengusulkan agar para wanita turut serta untuk membangkitkan semangat balas dendam atas korban Perang Badar.[3]

 

Sebagian berpendapat bahwa para pembesar Quraisy membawa wanita agar mereka tidak melarikan diri dari medan perang, karena meninggalkan wanita di medan perang dianggap sebagai aib.[4]

 

Sejumlah wanita Quraisy, termasuk Hindun istri Abu Sufyan, turut serta dalam pasukan tersebut.[5]

 

Kaum Muslimin mengetahui pergerakan Quraisy

Sebelum Quraisy bergerak menuju Uhud, Abbas bin Abdul Muththalib mengirim utusan kepada Rasulullah (saw) untuk memberi kabar tentang rencana dan kesiapan mereka.

 

Setelah menerima kabar tersebut, Rasulullah (saw) bersiap menghadapi pasukan Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada bulan Syawal, satu tahun setelah Perang Badar.

 

Beliau keluar bersama sekitar seribu orang, dan Amirul Mukminin (as) membawa panji pasukan. Di tengah perjalanan antara Madinah dan Uhud, Rasulullah (saw) membagikan panji-panji kepada kaum Muhajirin dan Anshar.

 

Kembalinya kaum munafik

Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, bersama sepertiga pasukan, kembali pulang dan berkata:

“Untuk apa kita membunuh diri kita sendiri? Wahai manusia, kembalilah!”

 

Akhirnya mereka kembali, dan hanya 700 orang yang tetap bersama Rasulullah (saw).

 

Susunan pasukan Muslimin di Uhud

Rasulullah (saw) menyusun strategi yang matang dan menempatkan 50 pemanah di atas bukit untuk menjaga bagian belakang pasukan.

 

Abdullah bin Jubair memerintahkan mereka:

“Jagalah posisi kalian dan jangan tinggalkan tempat, meskipun kalian melihat kaum Muslimin kalah, jangan turun membantu. Dan jika menang, jangan tergoda oleh harta rampasan. Segala sesuatu bergantung pada posisi kalian.”[6]

 

Pembawa panji kaum Quraisy dan kedudukan Ali (as)

Dalam perang ini, Amirul Mukminin (as) menjadi pembawa panji.

 

Syaikh Mufid menjelaskan bahwa beliau memegang panji (liwa) dan bendera (rayah), yang menunjukkan kepercayaan penuh Rasulullah (saw) kepada beliau dalam kepemimpinan di medan perang.[7]

 

Kemenangan awal kaum Muslimin

Ketika perang dimulai, Thalhah bin Abi Thalhah—yang dijuluki “domba jantan pasukan”—maju dan menantang:

“Siapa yang berani melawanku?”

 

Amirul Mukminin (as) maju ke hadapan dan berdiri di antara dua barisan. Rasulullah (saw) saat itu mengawasi dari tempat yang telah disiapkan.

 

Thalhah bertanya: “Siapa engkau?”

Beliau menjawab: “Aku Ali bin Abi Thalib.”.

 

Ia berkata: “Aku tahu, tidak ada selain engkau yang berani melawanku.”

 

Keduanya pun bertarung. Dalam satu tebasan, Amirul Mukminin (as) membelah kepala lawannya. Ia berteriak dengan suara yang belum pernah terdengar sebelumnya, lalu jatuh dan berguling dalam darahnya, sementara panji jatuh dari tangannya.

Diriwayatkan bahwa:
“Amirul Mukminin (as) menebas kaki Thalhah dengan satu pukulan. Ia pun terjatuh dan auratnya tersingkap. Maka beliau memuji Allah dan membiarkannya.”[8]

Pada saat itu Rasulullah (saw) dan kaum Muslimin bertakbir.

Setelah Thalhah, saudaranya Utsman bin Abi Thalhah maju, lalu Hamzah bin Abdul Muththalib menyerangnya dan menebasnya hingga tewas. Hamzah berkata:
“Aku adalah putra pemberi minum para jamaah haji.”

Kemudian saudara ketiga, Abu Sa‘id bin Abi Thalhah, mengambil panji, namun Amirul Mukminin (as) menyerangnya dan membunuhnya. Setelah itu panji dipegang oleh ‘Atha bin Syurahbil, lalu ia pun dibunuh oleh beliau.

Terakhir, seorang dari Bani ‘Abd ad-Dar mengangkat panji, namun ia juga dibunuh oleh Amirul Mukminin (as).

Syaikh Mufid dalam al-Irsyad menulis:
“Para pembawa panji berjumlah sembilan orang, dan Ali bin Abi Thalib (as) membunuh mereka semua, sehingga kaum itu mengalami kekalahan.”[9]

Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa setelah para pembawa panji terbunuh dan pertempuran memuncak, tidak ada seorang pun yang berani menghadapi Amirul Mukminin (as), kecuali pedangnya dihancurkan dan kepalanya dibelah hingga tewas.

Kaum Muslimin pun berhasil mengepung para wanita musyrik, dan rasa takut menyelimuti hati mereka. Kemenangan besar tampak berada di pihak kaum Muslimin.

 

Perubahan keadaan: dari kemenangan menuju kekalahan
Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama. Sekelompok pemanah melanggar perintah Rasulullah (saw) dan turun dari posisi mereka untuk mengambil harta rampasan.

Komandan mereka, Abdullah bin Jubair, berusaha menahan mereka, namun mereka menolak dan hanya sepuluh orang yang tetap bersamanya.

Ketika Khalid bin Walid melihat bagian belakang pasukan Muslimin terbuka, ia menyerang dengan 200 pasukan berkuda. Setelah pertempuran sengit, Abdullah bin Jubair gugur.

Kaum musyrikin yang kembali bangkit kemudian menyerang dari belakang dan mengepung kaum Muslimin. Mereka terkejut dan tidak siap menghadapi serangan itu. Dari segala arah, mereka diserang dengan pedang dan tombak, sehingga banyak yang terbunuh secara tragis.

Keadaan menjadi kacau, bahkan sebagian mereka tanpa sadar saling membunuh.

 

Larinya sebagian kaum Muslimin dan pembelaan Ali (as)
Sebagian kaum Muslimin melarikan diri dari sekitar Rasulullah (saw).

Namun Amirul Mukminin (as), dalam saat-saat genting itu, tidak memikirkan apa pun selain menjaga Rasulullah, terlebih ketika melihat kaum musyrikin mengarahkan serangan kepada beliau.

Beliau bersama sekelompok kecil sahabat mengelilingi Rasulullah untuk melindunginya.

Hamzah menyerang musuh dengan pedangnya, sementara Amirul Mukminin (as) menerjang seperti burung pemangsa yang lapar, memukul dan mencabik-cabik musuh dengan pedangnya yang tajam, meskipun beliau berjalan kaki sementara musuh berkuda.

Beliau terus menjauhkan mereka dari Rasulullah hingga pedangnya patah.

Rasulullah (saw) sendiri juga berperang dengan keberanian luar biasa, sementara kaum musyrikin mengelilingi beliau dan berusaha membunuhnya dengan segala cara.

 

Tersebarnya kabar wafatnya Nabi (saw)
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin (as):

“Ketika pada hari Uhud orang-orang tercerai-berai dari sekitar Rasulullah (saw), aku kehilangan kendali diriku karena khawatir terhadap beliau. Aku terus bertempur di hadapan beliau, lalu kembali, namun tidak melihat beliau.

Aku berkata dalam hati: Rasulullah bukanlah orang yang melarikan diri, dan aku juga tidak melihatnya di antara para syuhada. Aku pun mengira beliau telah diangkat ke langit.

Aku mematahkan sarung pedangku dan berkata: ‘Aku akan berperang demi Rasulullah hingga aku terbunuh.’

Aku pun menyerang hingga jalan terbuka, lalu aku melihat Rasulullah terbaring pingsan di tanah. Aku berdiri di atas beliau. Beliau memandangku dan bersabda:
‘Wahai Ali, apa yang dilakukan manusia?’

Aku menjawab:
‘Wahai Rasulullah, mereka telah kufur (berpaling), mundur, dan menyerah.’”

Pengorbanan Amirul Mukminin (as) di Uhud

 

Rasulullah melihat sekelompok dari pasukan musuh maju, lalu beliau bersabda kepadaku:
“Wahai Ali, jauhkan mereka dariku.”

Aku pun menyerang mereka dan menebaskan pedang ke kiri dan ke kanan hingga mereka melarikan diri.

Rasulullah (saw) bersabda kepadaku:
“Apakah engkau tidak mendengar pujian terhadap dirimu di langit? Sesungguhnya malaikat Ridwan menyeru:

لَا سَيْفَ إِلَّا ذُو الْفِقَارِ وَلَا فَتَى إِلَّا عَلِيٌّ

‘Tidak ada pedang selain Dzulfiqar dan tidak ada pemuda (pahlawan) selain Ali.’”

Maka aku menangis karena kebahagiaan dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Suci atas nikmat ini.” [10]

Kesyahidan Hamzah, paman Nabi (saw)
Dalam perang ini, “Hamzah bin Abdul Muththalib” syahid dengan tombak “Wahsyi”, budak Jubair bin Muth‘im. Hindun binti ‘Utbah kemudian mencincang tubuhnya, memotong hidungnya, dan membelah perutnya serta memakan hatinya.

Rasulullah (saw) sangat berduka dan bersabda:
“Tidak ada musibah yang menimpaku seperti musibahmu.”

Kehadiran wanita Muslim dalam Perang Uhud
Dalam perang Uhud, 14 orang wanita dari kalangan Anshar dan Muhajirin hadir, yang bertugas seperti memberi minum, merawat orang terluka, dan memasak makanan.[11]

Di antara wanita tersebut adalah: Sayyidah Fatimah (salamullahi ‘alaiha), Ummu Aiman, Hamnah, Ummu Sulaim, dan Ummu ‘Ammarah (Nusaibah).[12]

Keutamaan Amirul Mukminin (as) dalam Perang Uhud
Ibnu Abi al-Hadid berkata:
Keutamaan Ali (as) dalam jihad di jalan Allah, bagi kawan maupun lawan, jelas dan nyata. Ia adalah pemimpin para mujahid. Apakah benar keutamaan jihad pantas bagi selain dirinya?

Telah terlihat bahwa perang terbesar Rasulullah (saw) dan pukulan paling keras terhadap kaum musyrik adalah Perang Badar Kubra.

Dalam perang itu, 70 orang musyrik terbunuh, yang setengahnya dibunuh oleh Ali (as).[13]

Pada hari Perang Uhud, menurut riwayat yang paling sahih, beliau membunuh para pembawa panji kaum musyrik—yang disebutkan berjumlah tujuh atau sembilan orang—dan kaum musyrik melarikan diri setelah mereka terbunuh.

Seandainya para pemanah tidak melanggar perintah Rasulullah (saw), perang akan berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin.

Seluruh orang yang terbunuh dari pasukan musyrik pada hari itu berjumlah 28 orang, yang 18 di antaranya dibunuh oleh Ali (as).[14]

Imam Shadiq (as) bersabda:
“Maksud dari ayat:

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا
Di antara kalian ada yang menginginkan dunia

dan:

وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat

adalah Abdullah sendiri dan dua belas orang dari sahabatnya yang tetap tinggal hingga terbunuh.

Kemudian keadaan orang-orang yang melarikan diri dijelaskan dalam ayat:

فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ
Maka Dia menimpakan kepada kalian kesedihan di atas kesedihan”

Abu Jarud meriwayatkan dari Imam Baqir (as) bahwa beliau bersabda:
“Kesedihan pertama adalah larinya kaum Muslimin, dan kesedihan kedua adalah penguasaan Khalid bin Walid atas mereka.”

Al-‘Ayyasyi meriwayatkan dengan sanadnya pada ayat 155 Surah Ali Imran dari Imam Shadiq (as) bahwa beliau bersabda:
“Ketika pasukan Islam pada hari Uhud melarikan diri, Rasulullah (saw) bersabda kepada mereka:
‘Ke mana kalian lari? Allah telah berjanji kepadaku bahwa agama Islam akan mengalahkan semua agama.’

Sebagian orang munafik berkata: ‘Kami lari, sementara Nabi mengejek dan bercanda.’” [15]

Nu‘man ar-Razi meriwayatkan dari Imam Shadiq (as) bahwa beliau bersabda:
“Dalam Perang Uhud, orang-orang melarikan diri dari sekitar Rasulullah (saw), hingga beliau sangat marah. Dan apabila beliau marah, keringat seperti butiran mutiara mengalir dari dahi beliau.

Beliau melihat dan mendapati Ali (as) berada di sisinya, lalu bersabda:
‘Engkau juga bergabunglah dengan kaum kerabatmu (seperti orang lain) yang melarikan diri dari Rasulullah.’

Ali berkata:
‘Wahai Rasulullah, aku adalah pengikutmu.’

Rasulullah bersabda:
‘Kalau begitu, jauhkan musuh-musuh ini dariku.’

Ali (as) pun menyerang dan memukul orang pertama yang ia temui dengan pedang.

Jibril berkata:
‘Wahai Muhammad, ini benar-benar kesetiaan.’

Rasulullah bersabda:
‘Sesungguhnya ia dariku dan aku darinya.’

Jibril berkata:
‘Dan aku juga dari kalian.’”

Imam Shadiq (as) bersabda:
“Pada saat itu Rasulullah (saw) melihat Jibril di atas sebuah tempat dari emas di antara langit dan bumi, seraya berkata:

لَا سَيْفَ إِلَّا ذُو الْفِقَارِ وَلَا فَتَى إِلَّا عَلِيٌّ” [16]

“Tidak ada pedang selain Dzulfiqar dan tidak ada pemuda gagah selain Ali”

Muhammad bin Muhammad bin ‘Isam al-Kulaini meriwayatkan dari Imam Shadiq (as) bahwa beliau bersabda:
“Pedang Amirul Mukminin (as) dinamakan ‘Dzulfiqar’ karena pada bagian tengahnya terdapat garis memanjang seperti ruas-ruas tulang punggung. Itu adalah pedang yang dibawa oleh Jibril dari langit, dengan gagang dari perak, pedang yang dengannya seorang penyeru dari langit berseru:

لَا سَيْفَ إِلَّا ذُو الْفِقَارِ وَلَا فَتَى إِلَّا عَلِيٌّ”

“Tidak ada pedang selain Dzulfiqar dan tidak ada pemuda gagah selain Ali” [17]

Hasil dari perang ini pada awalnya adalah kekalahan kaum musyrik; namun sekelompok pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah (saw) di bawah komando Abdullah bin Jubair di atas Gunung ‘Ainain di sisi kiri Gunung Uhud, karena mengira telah menang, meninggalkan posisi mereka.

Kaum musyrik pun melewati jalur tersebut dan menyerang kaum Muslimin dari belakang serta mengalahkan mereka. Dalam perang ini, kaum Muslimin mengalami kerugian besar; di antaranya gugurnya sekitar tujuh puluh orang Muslim, kesyahidan Hamzah bin Abdul Muththalib dan jasadnya dimutilasi, luka pada wajah Rasulullah (saw), serta gigi beliau yang patah.

Setelah berakhirnya Perang Uhud, kaum musyrik bergerak menuju Mekah, namun di tengah perjalanan mereka menyesal dan memutuskan untuk kembali guna menghabisi sisa pasukan Islam. Jibril turun dan memerintahkan Rasulullah (saw) untuk bergerak kembali berperang.

Seorang penyeru memanggil para pasukan yang terluka untuk bergerak. Disebutkan bahwa enam puluh penunggang kuda atau tujuh puluh orang keluar bersama Rasulullah (saw).

Sumber

  1. al-Maghazi, jilid 1, halaman 203; Tarikh ath-Thabari, jilid 2, halaman 59.
  2. al-Maghazi, jilid 1, halaman 203; Ansab al-Ashraf, jilid 1, halaman 383.
  3. al-Maghazi, jilid 1, halaman 202; al-Muntazham, jilid 2, halaman 263.
  4. Tarikh ath-Thabari, jilid 2, halaman 59; as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, jilid 3, halaman 62.
  5. Tarikh ath-Thabari, jilid 2, halaman 59; as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 327.
  6. Thabaqat al-Kubra: jilid 2, halaman 30, juga: al-Kamil fi at-Tarikh: jilid 2, halaman 47, juga: al-Irsyad: jilid 1, halaman 80 dengan sedikit perbedaan.
  7. Bihar al-Anwar jilid 16 halaman 117.
  8. al-Kamil fi at-Tarikh: jilid 2, halaman 47.
  9. al-Irsyad, Syaikh Mufid: jilid 1, halaman 88.
  10. I‘lam al-Wara: jilid 1, halaman 378.
  11. Ibnu Atsir, jilid 6 halaman 70.
  12. al-Kamil/Terjemah, jilid 7, halaman 177.
  13. Sirah Ma‘shumin jilid 3 halaman 38.
  14. Bihar al-Anwar jilid 16 halaman 119.
  15. Tafsir Jami‘ jilid 1 halaman 501.
  16. al-Kafi jilid 8 halaman 110.
  17. Ma‘ani al-Akhbar jilid 1 halaman 146.

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *