Most searched:

pemberitaan Amirul Mukminin

Peristiwa Karbala Dalam Ucapan Dan Pemberitaan Amirul Mukminin As

Di antara semua peristiwa besar dalam sejarah Islam, tidak ada peristiwa yang begitu erat kaitannya dengan pemberitaan Nabi Muhammad SAW dan Amirul Mukminin As Saat memberitakan kesyahidan Imam Husain As,Amirul Mukminin As memberitakan beberapa rincian peristiwa Asyura, seperti: menunjukkan lokasi perkemahan, tempat penyembelihan, tempat pemakaman, tidak adanya pertolongan bagi Imam Husain As dan bahkan peristiwa setelah Asyura. Pemberitaan ini bukan hanya laporan tentang suatu peristiwa, tetapi peringatan ilahi untuk membangkitkan hati nurani dan menjelaskan jalan kebenaran.

 

Kabar Sedih Karbala

Dengan memberitakan dan memperingatkan tragedi Karbala, Amirul Mukminin As mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kesedihan akan Imam Husain As dan misi ilahi dalam perjalanan ke Shiffin.

Abdullah bin Yahya, yang merupakan salah satu perawi dan prajurit Amirul Mukminin As meriwayatkan: “Kami sedang menuju Shiffin bersama Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib As. Ketika Imam sampai di suatu titik dekat dengan Nainawa, beliau berkata: Wahai Abdullah! Berjalanlah pelan-pelan.”

Kemudian beliau melanjutkan: “Suatu hari saya mendapat kehormatan berada di hadapan Rasulullah Saw, saat itu mata beliau yang mulia berlinang air mata. Saya berkata: kedua orangtuaku menjai tebusan bagimu, wahai Rasulullah! Mengapa kedua mata engkau yang mulia berlinang air mata? Apakah ada yang membuat kalian marah?”

Rasul Saw bersabda: “Tidak; tetapi tadi Jibril bersamaku dan memberitahuku bahwa Husain As akan syahid di tepi Sungai Eufrat.”

Kemudian Jibril berkata: “Apakah kamu ingin mencium tanah Husain As?”

Aku menjawab, “Ya.”

Kemudian ia mengulurkan tangannya dan membawa segenggam tanah dan memberikannya kepadaku. Aku tidak dapat berhenti menangis. Nama tanah itu adalah Karbala. [1]

 

Karbala; Tanah Perjanjian para Penghuni Surga

Saat melewati Karbala, Amirul Mukminin As memberitakan dengan air mata berlinang dan dengan penuh kebijaksanaan tentang kesyahidan para sahabat Imam Husain As.

Juwayriyah bin Mushar al-Abdi adalah salah satu sahabat dekat, tepercaya dan tercinta Amirul Mukminin As. Ia hadir dalam pertempuran Shiffin dan Nahrawan dan diriwayatkan dari beliau: “Ketika kami berangkat ke Shiffin bersama Amirul Mukminin As dan sampai di Karbala, Amirul Mukminin As berdiri di tepi pasukan, melihat sekeliling dan meneteskan air mata. Kemudian beliau berkata, “Demi Allah, inilah tempat peristirahatan dan tempat kematian mereka.”

Mereka bertanya: “Wahai Amirul Mukminin di manakah tempat ini?”

Beliau menjawab: “Inilah Karbala; inilah tempat di mana orang-orang yang akan masuk Surga tanpa hisab akan dibunuh.” Kemudian beliau pergi.

Pada hari itu, orang-orang tidak memahami maksud perkataan Imam sampai peristiwa kesyahidan Husain bin Ali As dan para sahabatnya terjadi di Karbala.” [2]

 

Pria yang Melarikan Diri dari Karbala

Menurut riwayat dan laporan sejarah, Amirul Mukminin As ketika melewati tanah Karbala, sambil memberitakan kesyahidan Imam Husain As merujuk pada beberapa detail peristiwa Asyura;

Hartsamah bin Sulaym, yang merupakan salah satu sahabat Amirul Mukminin, meriwayatkan: “Kami bersama Ali bin Abi Thalib As dalam salah satu pertempuran. Ketika kami sampai di Karbala, Imam sedang memimpin salat. Setelah salat, beliau mengambil segenggam tanah di sana, menciumnya dan berkata: “Diberkahilah engkau wahai tanah! Sebagian dari kalian akan dibangkitkan dan akan masuk Surga tanpa hisab.”

Ia melanjutkan: “Ketika aku kembali dari medan perang, aku menceritakan kejadian itu kepada istriku Jarda, yang merupakan sahabat dan pengikut Syiah Amirul Mukminin As dan bertanya dengan heran: Bagaimana dia tahu tentang hal-hal gaib ini? \

Istriku berkata: “Wahai manusia, berhentilah mengatakan hal-hal ini! Amirul Mukminin As selalu berbicara yang benar.”

Hartsamah menambahkan: “Bertahun-tahun kemudian, ketika Ubaydillah bin Ziyad mengirim pasukan untuk berperang melawan Husain bin Ali As dan para sahabatnya, aku juga termasuk dalam kelompok pasukan berkuda dari pasukan tersebut.

Ketika aku mendekati pasukan Husain As dan para sahabatnya, aku mengenali tempat itu; itu adalah tempat yang sama di mana Amirul Mukminin As berhenti dan itu adalah tempat yang sama di mana beliau mengambil tanah dan menciumnya serta mengucapkan kata-kata itu.

Aku menyesal telah datang. Maka aku mendatangi Husain As dengan kudaku, memberi salam kepadanya dan menceritakan apa yang telah kudengar dari ayahnya tentang tanah ini.”

Imam Husain As bertanya kepadaku: “Apakah engkau bersama kami atau melawan kami?”

Aku berkata: “Wahai putra Rasulullah! Aku tidak bersama kalian dan tidak pula melawan kalian; aku telah meninggalkan keluargaku dan aku takut akan perlakuan Ibnu Ziyad terhadap mereka.”

Imam Husain As berkata: “Maka larilah dan menjauhlah agar kalian tidak menyaksikan pembunuhan kami. Demi Allah yang nyawa Muhammad ada di tangannya, siapa pun yang melihat pembunuhan kami hari ini dan tidak datang untuk membantu kami, Allah akan melemparkannya ke dalam api neraka.”

Hartsamah berkata: “Aku pun melarikan diri dari negeri itu agar aku tidak menyaksikan kesyahidannya.” [3]

 

Pemberitaan Amirul Mukminin As tentang peristiwa Asyura

Amirul Mukminin As dengan memberitakan kesyahidan Imam Husain As di dekat Kufah dan di tanah Karbala.

Harits al-A’war adalah salah satu sahabat Amirul Mukminin As dan salah satu orang pertama yang berbaiat kepadanya di Madinah. Harits al-A’war, yang mencatat hadits dan khutbah Imam Ali As meriwayatkan bahwa Imam bersabda: Orangtuaku menjadi tebusan untuk Husain, yang akan syahid di dekat Kufah! Demi Allah, aku dapat melihat binatang buas meletakkan kepala mereka di atas kuburan Husain dan menangis serta meratapinya dari malam hingga pagi. Ketika saat itu tiba, waspadalah terhadap penindasan dan tirani.” [4]

Juga, Imam Ali As menggambarkan tempat di mana Imam Husain As akan syahid: “Husain akan dibunuh dengan cara yang tak biasa. Aku tahu tanah tempat Husain akan syahid; tanah di antara dua sungai.” [5]

 

Bukti Sejarah Pemberitaan Amirul Mukminin As

Pada kesempatan lain, Amirul Mukminin As menyampaikan pemberitaan tentang kesyahidan Husain kepada Bara’ bin Azib, yang merupakan salah satu sahabat Rasul Saw dan sahabat beliau sendiri, dan berkata: “Anakku Husain akan terbunuh; engkau akan hidup pada hari itu, tetapi engkau tidak akan menolongnya.”

Bertahun-tahun berlalu dan peristiwa Karbala terjadi. Setelah kesyahidan Imam Husain As, Bara’ bin Azib, yang menyaksikan terwujudnya pemberitaan itu dengan mata kepala sendiri, berkata: “Demi Allah, Ali bin Abi Thalib As telah berkata benar; Husain terbunuh dan aku tidak menolongnya!” Kemudian penyesalan dan rasa bersalah menyelimuti dirinya atas musibah ini. [6]

 

Wahai penyebab air mata bagi kaum beriman!

Dengan tatapannya yang penuh kebijaksanaan, Amirul Mukminin Ali As melihat bahwa Imam Husain As adalah sumber air mata dan kesedihan orang-orang beriman.

Imam Ja’far as-Sadiq As berkata: “Suatu hari, Imam Ali As memandang putranya, Imam Husain As dan berkata: Wahai penyebab air mata bagi semua orang beriman!”

Imam Husain As bertanya: “Ayah! Apakah maksud Ayah adalah aku?”

Imam Ali As menjawab: “Ya, putraku tersayang.” [7]

 

Sumber

[1] Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 247

[2] Bihar al-Anwar, Jilid 41, Hal. 286

[3] Waq’atu Shiffin, Jilid 1, Hal. 140

[4] Bihar al-Anwar, Jilid 45, Hal. 205

[5] Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 262

[6] Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 262

[7] Bihar al-Anwar, Jilid 44, Hal. 280

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *