Most searched:

Tradisi najaf

Tradisi-Tradisi Berkabung Di Najaf Yang Bersejarah

Akar dari tradisi berkabung di Najaf Al-Asyraf berasal dari pengabdian penduduk kota ini kepada Ahlulbait, khususnya kepada Amirul Mukminin As, yang makam sucinya terletak di kota ini.

Tradisi berkabung ini dianggap sebagai bagian dari sejarah dan identitas budaya Najaf, terutama pada bulan Muharram dan Safar. Tradisi ini diadakan besar-besaran, dengan menyelenggarakan majlis-majlis, iring-iringan duka, acara tradisional seperti tradisi obor, tarian pedang dan pembacaan Maqtal.

 

Tradisi-Tradisi Kota Najaf

Kehadiran berbagai macam kelompok masyarakat di Najaf menyebabkan terbentuknya berbagai adat dan tradisi dalam masyarakat. Namun, kota Najaf Al-Asyraf tetap mempertahankan kepercayaan, adat istiadat dan tradisinya.

Najaf telah membangun tradisi dan warisan keagamaannya. Warisan keagamaan mengacu pada ritual keagamaan yang terinspirasi oleh hadits-hadits dan riwayat-riwayat melalui Hauzah Ilmiah.

 

Penyebaran Tradisi-Tradisi

Budaya, adat istiadat dan tradisi Najaf Al-Asyraf tidak terbatas pada para penyair dan pendakwah kota ini, tetapi Najaf merupakan elemen aktif yang menyebarkan ritual dan adat istiadatnya ke wilayah lain juga.

Para pendakwah agama dari Najaf Al-Asyraf melakukan perjalanan ke Lebanon, Teluk Persia, semua kota dan provinsi Irak, dan bahkan sebagian Iran, terutama Iran selatan dan khususnya kota Ahwaz dan mereka menyebarkan budaya mereka di sana.

Tidak ada kota yang memiliki aktivitas dinamis dan tabligh agama efektif seperti kota Najaf.

Budaya dan tradisi ini telah menjadi mercusuar di berbagai era pemerintahan, baik kerajaan maupun pemerintahan modern sepanjang sejarah. Atas dasar itu kata “ibrah” (nasihat) dan “abrah” (air mata dan kesedihan) ditetapkan padanya.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi pelajaran karena memberikan informasi, bimbingan dan nasihat, serta menghadapi semua kecenderungan negatif masyarakat, begitu pula dengan semua aktivitas etnis atau nasional dari berbagai kelompok.

Budaya keagamaan di Najaf sangat berbeda dari budaya di kota dan wilayah lain. Hal ini menyebabkan provinsi-provinsi Irak lainnya terpengaruh oleh karakteristik masyarakat Najaf ini, karena tradisi dan adat istiadat keagamaan pertama kali muncul di Najaf Al-Asyraf lalu menyebar ke wilayah lain dan ini berperan sebagai panutan bagi semua orang.

 

Tradisi Arbain

Asal usul tradisi iring-iringan Arbain sepenuhnya berasal dari Najaf Al-Asyraf. Tradisi ini dilakukan dari kota suci Najaf Al-Asyraf ke Karbala Al-Mu’alla. Hanya penduduk Najaf yang melakukan ritual ini dan sepanjang sejarah mereka telah melakukan dan mengeluarkan banyak biaya untuk menjalankan tradisi ini.

Memang benar bahwa, misalnya, penduduk Baghdad dan provinsi lain memiliki tradisi, kepercayaan, adat istiadat dan budaya mereka sendiri, tetapi dasar dari tradisi dan kepercayaan ini berada di kota suci Najaf dan kendati upaya penghancuran tradisi ini oleh rezim Irak terdahulu, tradisi Najaf tetap ada dan bahkan berkembang.

 

Tradisi Tuwairij

Salah satu tradisi duka penduduk Najaf adalah Duka Tuwairij. Dalam ritual ini, kisah kesyahidan Imam Husain As dibacakan oleh para mujtahid dan marja’ di Husainiya “al-Musyahadah” (Husainiyah warga Najaf) di Karbala. Kemudian, pada malam hari kesepuluh Muharram, para peziarah bergerak dalam kelompok-kelompok menuju makam Imam Husain As dan makam Abul Fadhl Abbas As.

Para peziarah meneriakkan slogan-slogan di sepanjang jalan, tetapi puisi-puisi yang mereka bacakan sangat berbobot dan otentik, termasuk puisi-puisi Syarif Radhi:

كربلاء لا زلت كربا و بلاء * * * ما لقي عندك آل المصطفى

“Wahai karbala engkau senantiasa penuh kesedihan dan musibah * * * Keluarga musthofa tak berjumpa di sisimu”

Semua puisi yang dibacakan adalah karya Syarif Radhi dan belum pernah terdengar puisi rakyat atau lokal dari penduduk Najaf. Meskipun para pedagang kaki lima dan pasar, orang biasa dan para ulama dari Hauzah turut serta dalam tradisi ini, puisi-puisi yang dibacakan semuanya berbobot dan otentik.

Hauzah selalu menjadi pelopor dalam pembacaan Maqtal dan menyelenggarakan tradisi keagamaan Muharram dan Asyura. “Sayyid Abdur Razzaq Muqrim” adalah salah satu pembaca Maqtal Imam Husain As. Beliau adalah seorang mujtahid terpercaya yang menulis buku-buku penting. Para pendakwah besar berkolaborasi dengannya dan hampir semua tokoh penting hadir bersamanya pada tanggal sepuluh Muharram.

Para ulama hadir di Karbala dua hari sebelumnya, sehingga semua orang memahami bahwa Hauzah Najaf Al-Asyraf telah datang ke Karbala untuk melaksanakan tradisi keagamaan.

Ada juga maukib untuk memberi makan para peziarah, di mana para guru, pekerja dan warga lainnya ikut serta, sehingga kerumunan besar selalu hadir di Husainiyah “Al-Musyahadah” di Karbala al-Mu’alla. Kehadiran orang-orang di luar Husainiyah juga meluas hingga ke Masjid “Abul-Fahd”.

Setelah rezim Ba’ats berkuasa, mereka menghancurkan Husainiyah ini sepenuhnya dan tidak meninggalkan sedikitpun, mereka bahkan tidak mengizinkan satu batu pun diletakkan di atasnya.

Takiyah (rumah berkabung) dan kelompok berkabung hadir di seluruh Husainiyah dan di luarnya hingga di Jalan “Al-Abbas”. Orang-orang memiliki keyakinan kuat akan tradisi ini dan usai pembacaan Maqtal, mereka berpartisipasi dalam tradisi “Rakdah al-Tuwairij”.

Semua tokoh agama, termasuk “Muhammad Mahdi Bahrul Ulum”, ikut serta dalam upacara berkabung ini.

Diketahui bahwa ketika ditanya mengapa ia ikut serta dalam upacara berkabung ini dan berlarian bersama anak-anak dan yang lebih muda, ia berkata bahwa ia melihat Imam Zaman Afs memimpin upacara berkabung Tuwairij ini dan berada di barisan pertama dan ada riwayat mengenai hal ini.

Kota Najaf Al-Asyraf memiliki empat daerah: Misyraq, Al-Imarah, Al-Barraq dan Al-Huwaisy. Masing-masing daerah ini memiliki karakteristiknya sendiri. Di Al-Imarah, selain ritual “Latm” atau “memukul dada” dan tradisi keagamaan lainnya, tradisi “membawa obor” juga dilakukan.

 

Tradisi Pawai Obor

Pawai obor sebelumnya dilakukan di daerah Huwaysh dengan satu obor, tetapi kemudian Huwaysh meninggalkan ritual ini dan penduduk Al-Imarah melanjutkan kebiasaan ini. Awalnya, mereka melakukannya dengan satu obor, tetapi kemudian, obor-obor ini secara bertahap bertambah menjadi tiga, tujuh dan akhirnya empat puluh obor.

Sebelum pemerintahan Rezim Ba’ats dan pelarangan pawai obor, penduduk Najaf mengadakan tradisi ini dan melakukannya dengan segenap kekuatan mereka. Dengan kesadaran dan keterampilan penuh seluruh penduduk Najaf ikut serta dalam upacara ini.

Meskipun penduduk Al-Imarah masih keluar dari rumah mereka dan melakukan tradisi ini, pada saat itu seluruh penduduk Najaf ikut serta dalam tradisi ini dan berduka dan tradisi ini disertai dengan banyak berkah dan mukjizat.

Ada banyak interpretasi tentang tradisi “pawai obor”.

Interpretasi pertama adalah bahwa upacara ini diadakan untuk membantu Sayyidus Syuhada, Imam Husain As. Diriwayatkan bahwa musuh-musuh Imam Husain As menyalakan api di sekitar perkemahan beliau dan ingin menakut-nakuti putri-putri Nabi dan putri-putri Imam. Kaum Syiah juga melakukan hal ini kepada musuh-musuh mereka sekarang dan meneriakkan slogan “Wahai Husain, Wahai Husain” untuk menakut-nakuti musuh-musuh Islam.

Interpretasi kedua adalah bahwa pada zaman dahulu, ketika seorang Arab terbunuh dan mereka ingin membalas dendam, mereka menyalakan api dan meneriakkan namanya sampai mereka membalas dendam. Di sini juga, menyalakan api dengan obor dan meneriakkan “Wahai Husain, Wahai Husain” berarti membalas dendam Imam Husain As. Ada interpretasi lain, tetapi yang paling penting dan terkenal adalah dua interpretasi ini.

 

Memukul Genderang Dan Gendang

Permainan gendang dan genderang bersamaan dengan prosesi obor sudah ada sejak zaman Bani Umayyah. Ketika Imam Husain As menyampaikan khutbah, Bani Umayyah akan memukul genderang agar suara Imam tidak sampai ke telinga orang banyak dan di sisi lain, mereka akan menciptakan rasa takut dan teror di kalangan orang-orang. Ritual memukul genderang dan meneriakkan slogan “Ya Husain, Ya Husain” hanya dilakukan oleh penduduk Najaf dan terdapat berbagai riwayat tentangnya.

 

Tarian Pedang

Ritual berkabung “Tarian Pedang” masih dilakukan oleh orang Arab. Interpretasi ritual ini menyatakan bahwa ritual ini menunjukkan kejantanan, keberanian dan kegagahan kaum Syiah. Alih-alih menghabiskan keberanian dan kegagahan mereka di tempat lain, mereka dengan tegas menyerukan nama “Haidar” dalam upacara ini.

Kata “Haidar” menakutkan dan membuat takut orang Yahudi, Nasrani, kafir dan semua musuh Islam. Dengan meneriakkan seruan “Haidar,” kaum Syiah menekankan bahwa mereka mencari pembalasan atas Imam Husain As.

 

Simbol Bendera

Di Irak, bendera-bendera memiliki warna yang berbeda, karena setiap bendera memiliki simbol, bahkan di angkatan darat Irak pun warna yang berbeda digunakan hingga sekarang. Bendera sariyyah atau unit perang pertama berwarna kuning, bendera sayap kanan berwarna putih. Saat ini, bendera angkatan darat juga memiliki warna yang berbeda. Saat ini, bendera unit kanan atau unit garda depan angkatan darat Irak berwarna kuning, seperti angkatan darat lainnya, termasuk angkatan darat Iran, Pakistan, India dll. Warna-warna ini melambangkan konsep tertentu, misalnya, merah berarti balas dendam atau hitam berarti kesedihan.

 

Makanan Nazar

Bahkan makanan yang dimasak di Najaf memiliki akar sejarah dan sebagian besar berakar pada tradisi para Imam maksum.

Diriwayatkan bahwa orang pertama yang mendirikan tenda duka di Najaf, memasak makanan dan mengundang para peziarah adalah Imam Ja’far as-Sadiq As, riwayat ini disebutkan dalam “Kamil al-Ziyarat”.

Nasi dan Qeimah adalah makanan yang sangat terkenal di kalangan orang Irak, terutama penduduk Najaf. Hal ini karena Imam as-Sadiq As sendiri memasak Qeimah bersama nasi, daging, kacang arab atau kacang adas.

Kebiasaan ini berlanjut hingga zaman Imam al-Hadi As dan setelah itu beliau melaksanakan ziarah Arba’in dan hal ini ditemukan dalam riwayat-riwayat.

Oleh karena itu, tradisi keagamaan di Najaf bukanlah tak berdasar atau dipopulerkan oleh musuh-musuh Islam atau kaum musyrik, melainkan semua tradisi keagamaan di Najaf berasal dari riwayat Ahlulbait As.

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *