Sayyidah Zahra Sa, sumber ketenangan bagi rumah dan keluarganya, lebih dahulu terbebas dari penderitaan dunia dan pergi menemui ayahanda tercintanya, Nabi Muhammad Saw.
Hanuth dari Surga
Semakin dekat saat perpisahannya dengan dunia yang fana, Sayyidah Zahra Sa semakin mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Pencipta.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Sayyidah Fatimah Sa hidup selama empat puluh hari setelah wafatnya ayahanda beliau yang mulia.
Ketika saat kesyahidannya tiba, beliau berkata kepada Asma: “Wahai Asma! Ketika waktu wafat Rasulullah Saw tiba, Malaikat Jibril membawakan kapur barus dari surga untuk beliau. Rasulullah membaginya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk diri beliau sendiri, sepertiga untuk Amirul Mukminin Ali As, dan sepertiga untukku. Jumlah keseluruhannya adalah empat puluh dirham. Wahai Asma! Ambillah sisa hanuth ayahku dari tempat tertentu dan letakkanlah di dekat kepalaku.”
Asma mengambilnya dan meletakkannya di dekat kepala Sayyidah Fatimah Sa. Kemudian Sayyidah Fatimah Sa menarik pakaiannya hingga menutupi tubuhnya dan bersabda: “Tunggulah sebentar, kemudian panggillah aku. Jika aku tidak menjawab panggilanmu, ketahuilah bahwa aku telah menyusul ayahku.”
Asma menunggu beberapa saat, kemudian memanggil Sayyidah Fatimah Sa. Namun, beliau tidak memberikan jawaban.
Asma kemudian berseru: “Wahai putri Muhammad al-Musthafa! Wahai putri manusia paling mulia yang pernah dilahirkan oleh seorang perempuan! Wahai putri manusia terbaik yang pernah melangkahkan kaki di atas bumi! Wahai putri seseorang yang kedekatannya dengan Tuhannya mencapai jarak dua ujung busur panah, bahkan lebih dekat lagi!”
Namun, Sayyidah Fatimah Sa tetap tidak menjawab. Asma kemudian menyingkap kain yang menutupi wajah beliau dan mendapati bahwa Sayyidah Fatimah Sa telah meninggal dunia.
Asma menjatuhkan dirinya ke tubuh beliau, menciuminya, dan berkata: “Wahai Fatimah! Ketika engkau bertemu dengan ayahmu, Rasulullah Saw, sampaikanlah salam Asma binti Umais kepada beliau.”
Perpisahan Hasan dan Husain dengan Ibunda Mereka
Perpisahan Imam Hasan dan Imam Husain As dengan ibunda mereka yang masih muda merupakan gambaran kerinduan dan cinta yang mendalam.
Imam Hasan dan Imam Husain As memandangi wajah penuh kasih ibunda mereka dengan perasaan tidak percaya dan mata yang dipenuhi air mata. Mereka memanggil-manggil nama sang ibu, berharap beliau akan memberikan jawaban.
Pada saat itu, Imam Hasan dan Imam Husain As masuk ke dalam rumah dan bertanya: “Wahai Asma! Mengapa ibu kami tidur pada waktu seperti ini?”
Asma menjawab: “Wahai kedua putra Rasulullah Saw! Ibu kalian tidak sedang tidur. Beliau telah meninggal dunia.”
Imam Hasan As menjatuhkan dirinya ke tubuh sang ibu dan menciuminya, seraya berulang kali berkata: “Wahai Ibu! Berbicaralah kepadaku sebelum ruhku berpisah dari tubuhku.”
Imam Husain As juga mendekat dan mencium kedua kaki ibundanya sambil berkata: “Wahai Ibu! Aku adalah putramu, Husain. Berbicaralah kepadaku sebelum hatiku hancur berkeping-keping dan aku meninggal dunia.”
Asma kemudian berkata kepada keduanya: “Wahai kedua putra Rasulullah Saw! Pergilah menemui ayah kalian, Ali As, dan sampaikanlah kabar wafatnya ibu kalian kepada beliau.”
Kehilangan Pendamping Hidup
Tidak seorang pun pernah melihat Ali bin Abi Thalib As begitu terguncang dalam kehidupannya, hingga suatu ketika Imam Hasan dan Imam Husain As datang dengan tergesa-gesa menemui ayah mereka dan menyampaikan kabar yang membuat beliau berlari pulang ke rumah dalam keadaan sangat terpukul.
Imam Hasan dan Imam Husain As keluar dari rumah. Ketika mendekati masjid, keduanya menangis dengan suara keras.
Seluruh sahabat segera menghampiri mereka dan bertanya: “Wahai kedua putra Rasulullah Saw! Mengapa kalian menangis? Semoga Allah tidak menjadikan mata kalian menangis! Barangkali kalian melihat tempat kakek kalian, Nabi Saw, lalu menangis karena merindukan pertemuan dengan beliau.”
Keduanya menjawab: “Tidak! Ibu kami, Fatimah Sa, telah meninggal dunia.”
Ketika Amirul Mukminin Ali As mendengar kabar yang menyedihkan tersebut, beliau jatuh tersungkur dengan wajah menyentuh tanah. Dengan penuh kesedihan dan penyesalan, beliau berkata: “Setelah ini, siapakah yang akan menjadi sumber ketenanganku, wahai putri Muhammad? Aku mendapatkan ketenangan melalui dirimu. Maka setelah kepergianmu, kepada siapa lagi aku akan memperoleh ketenangan?”
Kemudian beliau bersabda: “Setiap dua orang yang saling mencintai dan bertemu, suatu hari pasti akan berpisah. Segala sesuatu selain perpisahan terasa kecil dan cepat berlalu. Kenyataan bahwa setelah kehilangan Ahmad (Nabi Muhammad Saw), kini aku juga kehilangan Fatimah, menunjukkan bahwa tidak ada cinta dan kebersamaan yang berlangsung selamanya.”
Setelah itu, Amirul Mukminin As, dengan kepedihan yang mendalam, berkata kepada Asma: “Wahai Asma! Mandikanlah Fatimah Sa, berikanlah hanuth pada jenazahnya, dan kafanilah beliau.”
Asma melaksanakan seluruh pekerjaan yang diperlukan dengan penuh penghormatan dan cinta. Pada akhirnya, Amirul Mukminin As melaksanakan salat jenazah atas Sayyidah Fatimah Sa.
Sumber:
Kasyf al-Ghummah, jilid 1, halaman 500.