Keadilan merupakan salah satu konsep yang paling sering muncul dalam ucapan Ali bin Abi Thalib (as). Anjuran untuk berlaku adil—baik terhadap kawan maupun lawan—serta penegasannya sebagai salah satu kebajikan paling utama, merupakan bagian penting dari ajaran beliau.
Amirul Mukminin (as) melalui perkataan dan perbuatannya menunjukkan bahwa keadilan harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan.
Keadilan dalam Menghadapi Musuh
Salah satu dimensi terpenting dari keadilan adalah bagaimana memperlakukan pihak yang berseberangan. Di sinilah banyak orang tergelincir dan terjatuh dalam ketidakadilan. Namun, Ali bin Abi Thalib (as) bahkan dalam peperangan melawan Muawiyah ibn Abi Sufyan tidak pernah sedikit pun menjauh dari prinsip keadilan.
Perang Shiffin, yang merupakan pertempuran antara pasukan Amirul Mukminin (as) dan Mu‘awiyah, menjadi panggung yang menampilkan keadilan dan keluhuran akhlak Imam secara nyata.
Peperangan ini sekaligus menjadi ujian untuk membedakan Islam yang sejati serta untuk memahami kedalaman kepribadian Amirul Mukminin (as) melalui manifestasi keadilan beliau yang luar biasa.
Dua peristiwa yang akan disebutkan selanjutnya merupakan contoh kecil namun jelas dari keadilan Amirul Mukminin (as) dalam menghadapi musuh-musuhnya.
Kesatria dalam Tidak Menutup Akses Air Sungai Efrat bagi Pasukan Mu‘awiyah
Pasukan Muawiyah ibn Abi Sufyan lebih dahulu menguasai jalur air Sungai Efrat sebelum kedatangan pasukan Imam, lalu menutup akses air bagi pasukan Ali bin Abi Thalib (as). Tindakan ini merupakan bentuk ketidakadilan yang dapat berujung pada kekalahan pasukan kebenaran.
Namun, setelah para sahabat Imam dengan keberanian berhasil merebut kembali akses air tersebut, sebagian mengusulkan agar dilakukan tindakan balasan, yakni menutup air bagi pasukan Mu‘awiyah.
Pada saat itu, Amirul Mukminin (as) berdiri tegas bagaikan gunung yang kokoh menolak usulan tersebut, dan bersabda:
«لا وَاللّهِ، لا اكافِئُهُم بِمِثلِ فِعلِهِم، افسَحوا لَهم عَن بَعضِ الشَّريعَةِ، فَفي حَدِّ السَّيفِ ما يُغني عَن ذلِكَ.»
“Demi Allah, kami tidak akan membalas mereka dengan perbuatan yang sama. Biarkan mereka memperoleh sebagian akses ke air. Sesungguhnya ketajaman pedang kami sudah cukup bagi kami dari hal itu.”
Imam (as) bahkan di tengah medan perang tidak bersedia meninggalkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan akhlak.
Keadilan Ali bin Abi Thalib (as) melampaui dorongan kebencian dan balas dendam. Ia mengajarkan kepada pasukannya bahwa bahkan terhadap musuh pun harus diperlakukan dengan keadilan dan keluhuran budi.
Cacian Dilarang Bahkan di Medan Perang!
Di tengah panasnya pertempuran, sebagian sahabat Ali bin Abi Thalib (as), karena emosi dan kemarahan, melontarkan cacian kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan. Namun Amirul Mukminin (as), sebagai teladan akhlak dan adab, tidak meridhai perilaku tersebut.
Beliau melarang para sahabatnya dari mencaci dan bersabda:
«إنّي أكرَهُ لَكُم أن تَكونوا سَبّابينَ و لَكِنَّكُم لَو وَصَفتُم أعمالَهُم و ذَكَرتُم حالَهُم كانَ أصوَبَ في القَولِ و أبلَغَ في العُذرِ…»
Artinya: “Aku tidak menyukai kalian menjadi orang-orang yang suka mencaci, tetapi jika kalian menjelaskan perbuatan mereka dan menyebutkan keadaan mereka, itu lebih tepat dalam ucapan dan lebih kuat dalam menyampaikan alasan…”
Amirul Mukminin (as) meyakini bahwa bahkan terhadap musuh sekalipun, seseorang harus berbicara dengan kebenaran, serta menggantikan cacian dengan argumentasi dan penjelasan yang rasional.
Keadilan dalam ajaran beliau bukanlah keadilan yang buta, melainkan keadilan yang berdiri di atas kesadaran, ketajaman pandangan, dan akhlak yang luhur.