Dalam gelapnya cobaan yang menyelimuti umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, kebutuhan akan wawasan yang melampaui penampilan luar terasa lebih dari sebelumnya. Sementara itu, tokoh seperti Hudzaifah bin al-Yaman, salah satu mualaf pertama, berperan sebagai jembatan antara “rahasia wahyu” dan “realitas dunia nyata.” Dikenal sebagai sahabat kepercayaan Nabi Muhammad Saw, ia tidak hanya sekadar menceritakan berita, tetapi juga, dengan mengandalkan pengalaman sejarah dan ajaran kenabian, mencari cara untuk mengatasi ujian iman yang sulit dengan bantuan Amirul Mukminin As.
Dijuluki “Sang Pemilik Rahasia”
Hudzaifah bin al-Yaman, salah satu mualaf pertama, adalah sahabat terkemuka dan “orang kepercayaan” Nabi Muhammad Saw. Ia dikenal karena keberaniannya di medan perang dan dipercaya dalam meriwayatkan hadits. Para penulis sejarah tokoh menyebut Hudzaifah sebagai “orang kepercayaan” Rasulullah Saw. Hal ini karena Rasul Saw berbagi dengannya kabar tentang banyak peristiwa dan cobaan di masa depan, memberitahukannya tentang kehidupan batin banyak orang dan memberitahukannya sejumlah nama orang munafik. Secara khusus, ketika Rasulullah Saw kembali dari Tabuk, beliau memberitahukan kepadanya nama-nama setiap orang munafik yang mencoba menggiring kudanya ke tempat berbahaya. Karena alasan ini, Nabi Muhammad Saw berkenaan dengan Hudzaifah dan Amirul Mukminin As bersabda: “Mereka lebih mengenal orang-orang munafik daripada semua orang.” [1]
Bukti Hubungan Erat Amirul Mukminin As Dengan Sejumlah Sahabat Tertentu
Sebagai pemimpin kebenaran dan keadilan, Amirul Mukminin As memperkenalkan para sahabat pilihan yang keberadaannya merupakan berkah dan sumber rahmat ilahi bagi penduduk bumi dalam ucapannya yang mulia.
Amirul Mukminin As berkata kepada Hudzaifah: “Bumi memiliki kapasitas terbatas untuk tujuh orang; karena berkat keberadaan merekalah penduduk dunia diberi rezeki, pertolongan Allah sampai kepada mereka dan rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka. Di antara ketujuh orang ini terdapat orang-orang besar seperti Salman al-Farsi, Miqdad, Abu Dzarr, Ammar dan Hudzaifah. Amirul Mukminin As lebih lanjut menekankan bahwa aku adalah Imam dan pemimpin dari ketujuh orang ini; orang-orang yang sama yang mendoakan jenazah suci Sayyidah Fathimah az-Zahra As.” [2]
Kebenaran Bersama Ali
Di masa-masa sulit dan penuh cobaan, Hudzaifah bin al-Yaman, dengan wawasan yang diperoleh dari Rasul Saw sebagai sahabat kepercayaan, menekankan bahwa jalan kebenaran hanya bisa ditemukan dengan mengiringi Amirul Mukminin As.
Zaid bin Shuhan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, berkata: “Aku berada di Basrah, disana Hudzaifah sedang berdakwah kepada orang-orang dan memperingatkan mereka akan cobaan dan kekacauan yang akan datang. Mereka bertanya kepadanya apa jalan menuju keselamatan dan pembebasan? Dia berkata: Bergabunglah dengan kelompok dan perkumpulan yang bersama Amirul Mukminin As ada, meskipun berada bersama mereka lebih sulit daripada berperang dan berjalan dengan merangkak; karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Amirul Mukminin As adalah pemimpin orang-orang yang saleh dan penghancur orang-orang jahat. Siapa pun yang membantunya, Allah akan membantunya dan siapa pun yang meninggalkannya, Allah akan menghukumnya dan ini akan berlanjut hingga Hari Kiamat.” [3]
Perjanjian Dengan Amirul Mukminin As Pada Momen Bersejarah
Pada saat-saat genting sebelum Perang Jamal, Hudzaifah menyeru para sahabat untuk membuka mata kebijaksanaan mereka dengan bergabung dengan kafilah Amirul Mukminin As untuk membuktikan kebenaran di medan perang.
Ketika Amirul Mukminin As tiba di wilayah Dziqar untuk ikut serta dalam Perang Jamal, Hudzaifah berkata kepada para sahabatnya: “Pergilah kepada Amirul Mukminin As dan pemimpin para Washi, karena sesungguhnya kebenaran bisa ditemukan dengan membantunya.” [4]
Sumpah Hudzaifah Atas Keabsahan Wilayah Amirul Mukminin As
Di tengah kekacauan politik setelah Utsman, ketika Amirul Mukminin As memegang tampuk kekhalifahan, seorang pemuda mengajukan pertanyaan yang berani, yang kemudian ditegaskan oleh jawaban tegas dan mantap Hudzaifah, yang menegaskan keabsahan dan keberlangsungan kedudukan Amirul Mukminin As.
Rabi’ah as-Sa’di berkata: “Ketika Ali bin Abi Thalib As memegang tampuk kekhalifahan setelah pembunuhan Utsman, surat beliau sampai kepadanya (Hudzaifah), ia duduk di tanah dan berkata tiga kali: Demi Allah, Amirul Mukminin memiliki wewenang atas kalian. Di antara orang banyak, ada seorang pemuda dengan pedang terikat di pinggangnya, maju dan meminta izin untuk berbicara dan berkata: Apakah Ali bin Abi Thalib As menjadi Amirul Mukminin hari ini ataukah beliau adalah Amirul Mukminin sejak awal? Hudzaifah menjawab: Demi Allah, beliau adalah Amirul Mukminin sejak awal.” [5]
Teladan Terbaik Bagi Kaum Mukmin
Hudzaifah bin al-Yaman, mengutip hadits ini dari Nabi Muhammad Saw, memperkenalkan teladan terbaik dari orang-orang beriman yang saleh yang disebutkan dalam Al-Quran, yaitu Imam Ali As.
Hudzaifah bin al-Yaman berkata: “Aku menemui Rasulullah Saw. Kemudian Rasul Saw bersabda: Orang yang paling mulia di antara orang-orang beriman (yang disebutkan dalam ayat 4 Surah At-Tahrim) adalah Ali bin Abi Thalib As.” [6]
Dalam riwayat berharga ini, Nabi Muhammad Saw dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib As adalah manusia terbaik dan menjadikan keyakinan akan kebenaran ini sebagai salah satu kriteria orang bertakwa.
Hudzaifah bin al-Yaman berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Amirul Mukminin adalah manusia terbaik; barangsiapa tidak menerima hal ini, maka ia kafir.” [7]
Rezeki Tuhan Di Rumah Amirul Mukminin As
Amirul Mukminin As adalah perwujudan iman, kemurahan hati dan perlindungan ilahi; sebagaimana Nabi Muhammad Saw telah berulang kali menekankan akan keharusan cinta kepadanya seperti kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.
Hudzaifah bin al-Yaman berkata: “Ketika Ja’far bin Abi Thalib kembali dari Habsyah ke hadapan Nabi Muhammad Saw, beliau berada di Khaibar. Ja’far membawakan hadiah berupa parfum mahal dan qathifah (kain atau selimut mewah).
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan memberikan qathifah ini kepada seorang laki-laki yang dicintai Allah dan Rasulnya dan ia mencintai Allah dan Rasulnya.” Para sahabat Nabi Muhammad Saw dengan penuh harap mengangguk untuk melihat siapa yang akan menerima kehormatan ini. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda: “Di manakah Amirul Mukminin As?” Ammar bin Yasir berdiri dan memanggil Amirul Mukminin As. Ketika beliau datang, Nabi Saw berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin As! Ambillah kain ini.” Ali mengambilnya dan menunggu hingga sampai di Madinah. Kemudian beliau pergi ke pasar Baqi’ dan memerintahkan seorang tukang emas untuk memisahkan untaian emas dari kain tersebut. Emas di dalamnya berjumlah seribu mitsqal. Ali As membagikan semuanya kepada kaum muhajirin miskin dan kaum Ansar, lalu kembali ke rumah tanpa menyimpan sedikit pun emas untuk dirinya sendiri. Keesokan harinya, Nabi Saw, bersama sekelompok sahabatnya, termasuk Hudzaifah dan Ammar, pergi menemui Amirul Mukminin As dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin As! Kemarin engkau memperoleh seribu mitsqal emas; “Hari ini, jamulah aku dan para sahabatku untuk makan siang.” Pada saat itu, Amirul Mukminin As tidak memiliki kekayaan atau cadangan emas atau perak, tetapi beliau berkata dengan rendah hati dan murah hati: “Ya, wahai Rasulullah; engkau dan para sahabatmu dipersilakan untuk datang.”
Nabi Saw masuk ke rumah dan berkata kepada kami: “Masuklah kalian semua.” Hudzaifah berkata bahwa ada lima orang di antara kami: aku, Ammar, Salman, Abu Dzarr dan Miqdad. Kami masuk. Amirul Mukminin Saw pergi menemui Fatimah As untuk mencari makanan. Tiba-tiba, di tengah rumah, beliau melihat semangkuk besar makanan, uap mengepul darinya dan ada banyak daging di dalamnya dan aromanya seperti kesturi yang harum. Amirul Mukminin As mengambilnya dan meletakkannya di hadapan Nabi Saw dan orang-orang yang hadir. Kami semua memakannya dan merasa kenyang, tanpa ada makanan yang tersisa.
Kemudian Nabi Saw pergi menemui Fatimah As dan berkata: “Wahai Fatimah! Dari mana kau dapatkan ini?” Fatimah As menjawab sedangkan kami sedang mendengarkan: “Ini dari Allah; sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki tanpa hitungan.” Nabi Saw kembali dengan air mata di matanya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sebelum aku melihat putriku seperti apa yang dilihat Zakaria pada Maryam; sebagaimana firman Allah: Setiap kali Zakharia memasuki tempat Maryam, ia menemukan rezeki disana dan ia berkata: Wahai Maryam! Dari mana kau dapatkan ini? Dan Maryam menjawab: Ini dari Allah; Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki tanpa hitungan.” [8]
Kedudukan Tinggi Amirul Mukminin As Di Sisi Rasul Saw
Hadits penting dari Hudzaifah ini menunjukkan kesatuan spiritual Nabi Muhammad Saw dengan Amirul Mukminin As dan menjanjikan kedudukan tinggi di Surga bagi beliau dan para pengikutnya yang sejati. Hudzaifah bin al-Yaman meriwayatkan: “Rasulullah Saw berdiri dan mencium Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib As di antara kedua matanya dan berkata: Wahai Abul Hasan! Engkau adalah bagian dari diriku; ke mana pun aku turun, engkau pun akan berada di sana. Dan ada kedudukan bagimu di Surga, yaitu ‘wasilah.’ Maka diberkatilah engkau dan para pengikutmu setelahmu.” [9]
Pesan Untuk Selalu Menolong Amirul Mukminin As
Hudzaifah bin al-Yaman, seorang sahabat Nabi Saw yang bijaksana, tetap setia pada sumpah wilayah bahkan di akhir hayatnya dan menunjukkan jalan keselamatan kepada generasi mendatang dengan wasiatnya untuk terus menolong Amirul Mukminin. Pada tahun 36 H, Hudzaifah bin al-Yaman jatuh sakit parah di kota Kufah. Pada saat itu, kabar tentang kekhalifahan Amirul Mukminin As sampai kepadanya. Hudzaifah, yang merupakan salah satu sahabat setia Nabi Saw dan pendukung Amirul Mukminin As, membuat wasiat penting kepada putra-putranya dan penduduk Kufah di hari-hari terakhir hidupnya, meminta mereka untuk segera membantu Amirul Mukminin As dan mendukungnya. [10]
Kesetiaan Hudzaifah bin al-Yaman pada kebenaran terbukti dari nasihatnya untuk mengikuti Amirul Mukminin As hingga saat-saat terakhir hidupnya.
Ibnu Zufar, seorang pemimpin pasukan dari suku Qais, berkata: “Aku berada di samping Hudzaifah ketika ia wafat. Di saat-saat terakhir hidupnya, ketika ia menutupi wajahnya dengan kain, aku meletakkan kepalanya di bawah kain itu dan berkata: Sekarang setelah terjadi fitnah Thalhah dan Zubair terhadap Ali bin Abi Thalib As, apa yang akan engkau perintahkan kepadaku? Ia menjawab: Segera setelah engkau selesai menguburku, naiklah kendaraanmu dan bergabunglah dengan Ali bin Abi Thalib As; karena ia berada di jalan kebenaran dan kebenaran tidak akan terpisah darinya.” [11]
Hudzaifah wafat di Madinah pada 28 Muharram awal tahun 36 Hijriah, empat puluh malam setelah pembunuhan Utsman dan dimulainya baiat umat Islam kepada Amirul Mukminin As. [12]
Sumber:
- Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, Jilid 1, Hal. 391.
- Bihar al-Anwar, Jilid 22, Hal. 351
- Bihar al-Anwar Jilid 22, Hal. 109
- Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, Jilid 2, Hal. 187-188
- Ibnu Thawus. No. 1374, Hal. 386
- Syawahid at-Tanzil, Jilid 2, Hal. 347
- Kasyf al-Yaqin, Jilid 1, Hal. 291
- Bihar al-Anwar, Jilid 37, Hal. 105
- Mi’ah Manqabah, Jilid 1, Hal. 86
- Waqai’ as-Sinin wa al-A’wam, Jilid 1, Hal. 90
- Bihar al-Anwar Jilid 22, Hal. 109
12. at-Thabaqat al-Kubro, Jilid 7, Hal. 317